Thursday, December 27, 2007

TAFAKUR TAUHID

Ketika saya membaca “Asyhaduallaa Ilaaha Illallah” pada tahiyat akhir subuh tadi, tiba-tiba saja ada kegelisahan terbesit di hati. Setelah salam, saya pun merenungi makna kalimat tauhid tadi. “Asyhadu” (Saya bersaksi) “Laa” (Tiada) “Illaah” (Sembahan. M. Quraisy Shihab menafsirkannya sebagai kecenderungan hati, atau hal yang mendominasi hati) dan “Illallah” (kecuali Allah).

Tiba-tiba saya merasa begitu bersalah. Karena kalimat pendek yang paling tidak saya baca 9 kali sehari dalam Shalat itu jarang sekali saya jadikan topik untuk tafakur. Padahal kalimat ini adalah batas antara kafir dan muslim, batas antara neraka dan surga.

Ayam berkokok, jam berdentang lima kali dan suara tukang roti lantang menjaja dagangannya. Tapi pikiran dan hati saya terlanjur melayang dalam keasyikan mentafakuri kalimat tauhid ini.

“Asyhadu” (Saya bersaksi). Tiba-tiba saya merasa berada dalam ruang pengadilan. Seorang hakim dengan tegas menanyai seorang saksi “apakah anda menyaksikan bahwa matahari terbit dari timur?”. Sang saksi menjawab mantap “Ya yang mulia, saya menyaksikan kemarin matahari terbit dari timur”. Lalu sang hakim menanyai saksi lain “apakah anda menyaksikan bahwa matahari terbit dari timur?”. Sang saksi ragu-ragu menjawab “saya tidak tahu yang mulia, karena saya tidak tahu mana Timur dan mana Barat”. Tentu saya gelisah melihat pemandangan ini karena ketika saya mengatakan “Saya Bersaksi” dalam kalimat tauhid, maka saya ragu apakah saya memiliki pengetahuan mengenai apa yang saya “saksikan”?. Sudahkah saya tahu siapa Allah? Dimana Ia berada? Apa saja yang Ia berikan pada saya dan alam semesta ini? Pipi saya mulai terasa hangat oleh linangan air mata. Saya ternyata termasuk saksi yang kedua dalam gambaran batin di atas. Saksi yang ragu-ragu.

“Illaah” (Sembahan, kecenderungan hati, yang mendominasi hati). Ruang pengadilan lalu berganti menjadi jam yang teramat besar yang menunjukkan pukul 12 malam. Di tengah jam itu tetera NAMA SAYA dengan huruf-huruf besar. Tiba-tiba jarum jam mulai bergerak cepat. Setiap jarum pendek bergeser, ia meninggalkan tulisan di belakangnya. Jam 1 sampai jam 4:30 meninggalkan tulisan: TIDUR. Jam 4:30-4:45 SOLAT SUBUH. Lalu beragam tulisan mulai tertera di belakang gerak jarum yang melaju hingga kembali pada pukul 12 malam: BACA BUKU AGAMA, BACA KORAN, SARAPAN, BERCENGKERAMA DENGAN KELUARGA, BISNIS, BISNIS, SHOLAT ZUHUR, BISNIS, BISNIS, SHOLAT ASHAR, BISNIS, BISNIS, SHOLAT MAGRIB, BISNIS, SHOLAT ISYA, BERCENGKRAMA DENGAN KELUARGA, dan TIDUR. Saya berhitung dengan cemas. Dalam 24 jam hidup saya ternyata saya hanya sempat mengingat Allah pada saat sholat dan membaca buku agama. Setiap sholat menghabiskan 15 menit sehingga sehari saya sholat 75 menit ditambah 30 menit baca buku 105 menit. Tidak sampai 2 jam. Katakanlah saya juga mengingat Allah di dalam aktifitas sehari-hari sehingga paling tidak 2 jam sehari saya mengigat Allah. Dengan asumsi waktu tidur 8 jam, maka saya hanya mengalokasikan waktu 2/16 jam yang setara dengan 12.5% untuk mengingat Allah. Coba kamu katakana pada saya, wahai sahabatku tercinta, apakah kecenderungan hatiku ada pada Allah? Apakah hal yang mendominasi hatiku adalah Allah?

Lalu apa makna kata-kata “Asyhaduallaa Ilaaha Illallah” yang selama ini terucap dalam sholat saya?

Saya tersungkur menangis dan bersujud memohon ampun pada Yang Maha Pengampun. Ternyata dalam mengucapkan kalimat tauhid pun saya masih membohongi Mu ya Allah. Apa yang saya ucapkan belum sejalan dengan hati maupun tindakan. Saya begitu takut kehilangan nilai amal ibadah saya yang lalu dan terlebih lagi, saya teramat takut kehilangan CInta NYA karena membohongi Sang Kekasih. Ampuni aku Yang Maha Pemurah, Ampuni aku. Cintai aku. Cintai aku.

Saya bangkit dari sujud dan tiba-tiba Allah mengarahkan pandangan saya pada sebuah buku di perpustakaan pribadi saya. Judulnya: MENYINGKAP RAHASIA-RAHASIA DZIKRULLAH karya Syaikh Muhammad Zakariyya Rah.a. sebuah buku yang mengajarkan agar hati kita senantiasa tersambung pada Allah SWT, Sang Kekasih Yang Maha Tinggi, dalam apa pun kegiatan kita. Saya tertunduk bersyukur. Terimakasih Ya Allah, semoga saya mampu merubah tulisan-tulisan di jam besar itu menjadi semata-mata berlafadzkan: ALLAH, ALLAH, ALLAH…

Bintaro, 18 Desember 2007,

Untuk semua orang-orang yang saya cintai karena Allah SWT. Semoga hati kita di hari-hari kedepan, hanya dipenuhi oleh cinta pada Sang Kekasih Abadi.

Mohon doa & Salam,

1 comment:

iwik poenya said...

subhanallah..
tertetes sudah kala membaca ulasan singkat yang cukup jelas,
Maha Besar Allah Penyayang umat manusia.