Wednesday, February 21, 2007

Ugh.. Anak Saya Mulai Bertanya Soal Rokok..

Anak lelaki saya berusia 12 dan duduk di kelas 1 SMP. Ia memang penuh dengan kejutan. Pernah tidak masuk 10 besar di kelasnya, namun terpilih mewakili sekolahnya untuk lomba sains antar sekolah. Ulahnya sering membuat ibunya gusar, namun perhatiannya lebih sering meluluhkan hati sang ibu. Dan malam ini, Kaka – demikian kami memanggilnya – mempersembahkan kejutannya yang terbaru.

”Sebelum nyoba, aku mau tanya. Apa sih rasanya merokok?” Kata-kata itu merupakan petir di siang bolong yang mampir ke ponsel istri saya dalam bentuk sms. Dan petir itu malam ini muncul kembali dari mulutnya dan terasa benar menyengat jantung.

Rasanya baru kemarin saya mengantarnya masuk Taman Kanak Kanak dan sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan menyenangkan seperti: pelangi itu merah kuning hijau, kupu-kupu itu berawal dari ulat & kepompong, Tele Tubbies itu terdiri dari Tinky Winky, Dipsy, Lala, & Po dll.

Tapi kelihatannya kami sudah harus mulai mempersiapkan diri untuk menerima pertanyaan-pertanyaan semacam rokok di atas dan sebentar lagi – saya yakin – soal seks dan pacar (saya ternyata belum siap melihat anak saya tumbuh remaja dan berubah..hik..). Akhirnya semalam sebelum tidur dan sesudah shalat Subuh hari ini, kita berdiskusi panjang soal rokok. Man to man.

Ada 3 hal yang kita diskusikan: (1) kenapa orang mulai merokok? (2) apa rasanya rokok? (3) apakah ia boleh merokok?

Topik (1): Kenapa orang mulai merokok? Anak saya tau bahwa saya mantan perokok. Tapi dia baru tau kalau saya memulainya karena lingkungan saya yang perokok. Ayah, paman, tante, sepupu banyak yang merokok. Terlebih lagi teman-teman saya, sehingga saya terbawa dan tak ada yang memberi tahu saya soal bahayanya merokok. Tapi sesungguhnya ini pilihan buruk dan kalau saja saya bisa menggunakan alat Pak Haji Deddy Mizwar di serial TV Lorong Waktu untuk kembali ke masa lalu, saya memilih untuk tidak merokok. Anak saya mengakui bahwa teman-temannya mengajak dia untuk merokok dan dia sedang berpikir untuk melakukannya demi mendapat pengakuan pertemanan. Saya lalu membeberkan data-data mudharat merokok (dibahas di topik 3 di bawah) sebagai ongkos pertemanannya. Karena anak saya tahu betapa terpukulnya saya ketika sahabat saya yang perokok akhirnya meninggal akibat kanker lidah, dia bisa merasakan atmosfir mahalnya ongkos tersebut.

Topik (2): Apa rasanya rokok? Awalnya pahit dan bikin pusing. Ketika SD saya pernah merokok diam-diam bersama adik-adik sepupu di gudang belakang rumah. Akibatnya kita semua pusing dan muntah berjamaah. Tapi rupanya rasa ”bergaya” dan ”solidaritas teman” mengalahkan sunatullah yang ada di tubuh saya. Akhirnya saya pun kecanduan rokok yang dalam batas-batas tertentu memang membuat saraf menjadi rileks. Dan rasa rileks itulah yang akhirnya menutup nalar kita untuk berani melihat bahaya merokok. Aah, yang kena kanker pasti orang lain.. saya pasti tidak akan kena.. demikian nalar saya membuat logika yang tidak nalar. Tapi tetap saja walaupun sudah jadi perokok berat, saya tidak tahan bila merokok di ruang tertutup dan ber AC. Pasti saya langsung menunjukkan gejala kehamilan (pusing, mual, muntah). Jadi memang rasanya tidak selalu nikmat.

Topik (3) apakah anak saya boleh merokok? Kita akhirnya berdiskusi mengenai fikih, statistik, dan pengalaman pribadi. Yusuf Qardhawi dalam buku Fatwa-Fatwa Kontemporer jilid 1 menjelaskan bahwa ada 3 jenis pendapat ulama soal rokok. Ada yang mengharamkan, memakruhkan, dan menghalalkan. Yusuf Qardhawi sendiri termasuk mengharamkannya dengan alasan: (a) Memabukkan. Bisa menjadikan pikiran kacau, menghilangkan pertimbangan akalnya, menjadikan nafasnya sesak dan dapat teracuni. Ingat gejala kehamilan di atas? Kayaknya ini yang dimaksud. (b) Menimbulkan mudharat pada badan dan harta. Dimana mudharatnya? Saya sendiri baru 3 tahun terakhir ini berhenti karena banyak teman-teman yang meninggal akibat rokok. Ada yang karena serangan jantung, kanker lidah, dan kanker paru-paru. Belum lagi teman-teman yang masih hidup tapi terserang stroke, mengidap penyakit jantung dan kanker yang juga akibat rokok. Ketika saya menengok almarhum sahabat saya di RS Kanker Dharmais, dokter mengatakan bahwa 80% pasien Dharmais adalah perokok. Data-data yang diumumkan Fakultas Kedokteran Inggris juga cukup mendukung fatwa ini:
[1] setiap tahun 27.500 orang Inggris meninggal karena merokok, dan usia mereka berkisar antara 34-65 tahun
[2] setiap tahun 155.000 orang Inggris akan mati dimana 72% nya diakibatkan oleh penyakit paru-paru sebagai akibat langsung dari kebiasaan merokok.
[3] perokok Inggris kebanyakan meninggal akibat penyakit paru-paru, saluran pernafasan, jantung, tenggorokan, kanker payudara, kanker mulut, serta kanker tenggorokan. Anak-anak yang lahir dari rahim perokok lebih banyak mati karena keguguran.

Secara fikih, saya sendiri mengambil pendapat yang memakruhkan. Artinya saya selalu berusaha sekuat mungkin menjauhi rokok, kecuali ada hal-hal yang lebih mendatangkan manfaat.

Dalam kasus ini saya dihadapan pada pilihan: satu, melarang anak saya merokok dengan resiko dia akan merokok di belakang saya serta cenderung tertutup dengan masalah-masalahnya. Dua, membiarkan dia merokok dengan resiko saya di jauhi dari Cinta Allah karena membiarkan anak saya menjalankan hal-hal yang makruh. Tiga, adakah pilihan ke tiga?

Setelah menimbang-nimbang sejak semalam, saya berijtihad dan membuat pilihan ke tiga yaitu: mengajak anak saya merokok bersama satu kali untuk menghilangkan rasa penasarannya, tapi kemudian melarangnya merokok selama ia masih menjadi tanggungan saya. Tentu saya tidak akan melakukan pendekatan ini untuk hal-hal yang jelas-jelas haram seperti makan babi atau minum alkohol demi memenuhi rasa penasarannya. Namun karena saya menggunakan fatwa makruh untukn rokok, maka saya berani mengambil pendekatan ini. Tapi apa manfaatnya pendekatan ini? Mempertahankan keterbukaan anak saya terhadap orang tuanya. Menurut saya, keterbukaan anak saya itu lebih penting untuk dipertahankan dibanding membiarkan dia penasaran terhadap rokok. Ketika usianya bertambah, akan lebih banyak lagi masalah yang memerlukan keterbukaan dan diskusi antara dia dan orang tuanya. Saya tidak ingin mematikan semangat keterbukaan dan kejujurannya ini.

Dalam mengambil langkah di atas, saya mengambil kaidah fikih yang dijelaskan oleh Yusuf Qordhowi dalam buku Fiqh Prioritas:

"Kerusakan yang kecil diampuni untuk memperoleh kemaslahatan yang lebih besar".


"Kerusakan yang bersifat sementara diampuni demi kemaslahatan yang sifatnya berkesinambungan".


Saya menganggap bahwa merokok sekali sebagai kerusakan kecil atau sementara. Sedangkan keterbukaan merupakan maslahat yang lebih besar dan sifatnya berkesinambungan. Mudah-mudahan tidak salah. Bila salah, hanya pada Allah lah saya minta ampun.

Ketika saya menawarkan mencoba merokok bersama, anak saya terheran heran. Dia tidak mengira bahwa saya akan keluar dengan tawaran tersebut. Namun diluar dugaan, dia malah berkata bahwa dia akan mikir-mikir dulu karena setelah berdiskusi ternyata dia kehilangan selera juga untuk memulai merokok. Alhamdulillah. Jadi cerita ini belum tamat dan masih akan bersambung ke episode berikutnya (kalau ada! Mudah-mudahan nggak. Haha).

Saya sendiri tidak yakin apakah pendekatan ini adalah cara terbaik. Namun pengetahuan dan pengalaman saya yang penuh kekurangan ini hanya mampu menghasilkan ijtihad di atas. Bila sahabat-sahabat yang membaca tulisan ini punya saran lain, saya akan sangat berterimakasih. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi kita semua. Amien.

Ucapan terimakasih atas kunjungan dan komentarnya: Azhar; Landy; Ibnu; Nila; Erika; Yoki; Ismansyah; Edwards; Wiku; Wawan; Muhamad Abduh; Phie; Irma Citarayani; N; Akbarsusamto; Andika Dwijatmiko; Anton; Yunis; Arman; cc-line.

Wallahualam Bissawab.

21 comments:

cc-line said...

Kaka bertanya pada orang yg tepat !! Artinya Bang Napi khan perokok juga... bokapnya sendiri lagi... nara sumber yg cukup valid.
Semoga niat pikir2 Kaka kalo mau ngrokok... pertanda baik.
Bukan cuman "taat kalo ada yg liat"... tanya kenapa.... tanya kenapa...

Azhar said...

kalo saya untungnya tidak merokok dan lingkungan saya khususnya orang tua saya dan teman-teman juga tidak merokok jadi mudah bagi saya untuk mengatakan tidak pada rokok.

sekarang khan bang napi (maaf kalo ga sopan manggilnya) udah tidak merokok mudah-mudahan dengan lingkungan seperti itu si kaka juga jd tidak merokok

Neesha said...

siap2lah dengan pertanyaan berikutnya..:D

ismansyah said...

seseorang haruslah dipandang baik jika ia berbahagia,
Berkembang, penyayang dan senang kalau orang-orang lain berbahagia.
Jika moralitas demikian yang berlaku,
Beberapa dosa kecil tidaklah perlu diributkan
(Betrand Russel)

Pernyataan diatas mungkin mirip-mirip dengan kaidah prioritas Yusuf Qardhawi, saya suka kata-katanya :)

Tapi itu bukan alasan untuk tidak bisa berhenti merokok. Oiya,..saya juga perokok sampai sekarang. Niatnya emang mau berhenti sebelum nikah, tapi bingung-juga apa bisa..
karena yang seperti kata pak hanafi katakan ada saat2 merokok memberikan rasa rileks pada saraf. Apalagi kalau mikir terlalu berat dan pusing, merokok terasa nikmat sekali.

Kalau saya mulai merokok akhir kelas 3 smp, faktornya memang lingkungan tapi yang utama karena kesepian, mungkin semacam merasa kurang diperhatikan hehehe maklum masih anak kecil

Sebagai seorang anak, saya rasa bapak bagus memberikan pendekatan seperti itu, memaparkan fakta-fakta tentang rokok dan akhirnya si anak yang nantinya menyimpulkan, saya setuju :) .Dan memang hubungan antara si anak dan bapaklah yang paling menentukan keputusan si anaknya (kaka ya namanya, salam buat kaka) Jika ia memiliki hubungan emosi yang kuat dengan si ayah (semacam rasa cinta) maka secara otomatis ia akan mengatakan tidak kepada rokok karena tidak ingin perasaan ayahnya tersakiti..

ups...saya kebanyakan ngomong jadinya maaf..soalnya merujuk dari pengalaman pribadi :)

NiLA Obsidian said...

untung dirimu lahir duluan daripada diriku, sehingga aku akan mempraktekan ilmu ini pada anakku kelak...huahahahaha....
hebat lah si bapak teh....
bersyukurlah kaka punya bapak kayak bang naphie (huahhahaha...panggilan baru yeuhhh) atau bang naphie harus bersyukur punya anak laki2 kayak kaka.....
two thumbs up for you n si teteh

Yusuf Alam Romadhon said...

Salam kenal bang... saya dokter yang mengampanyekan anti merokok..
kampanye anti merokok gimana ya.. jumlah sukunya cuman satu..."PERINGATAN PEMERINTAH dst...jumlahnya kalah banyak dengan suku perokok... ada suku "Ijo-ijo" ada suku "Buktikan merahmu" ada suku "Puncak Kenikmatan sejati" ada suku "Sejati = sekali jajal nancep di hati" ada suku "COklat" ada suku "Pria Sejati" ada suku "Come to the Marlboro Country" semua suku itu sangat keren..simbol anti kemapanan, "pemberontakan" dan sangat menarik untuk siapa saja untuk bergabung dengannya...
jadi skornya 30 : 1 kemenangan untuk kampanye "mari merokok"...

Bunda said...

Makasih udah mampir..sepakat dari semua itu yang terpenting dengan Kaka bertanya pada ayahnya jadi inget lagu Bimbo "...ada anak bertanya pada ayahnya..buat apa...).jadi nyanyi deh. membuktikan kedekatan bang Naphie ama Kaka...kalo sudah gitu biasanya enak diajak ngobrolnya....bang Naphie pasti tahu yang terbaik buat Kaka dan lebih bisa nyampe-innya...yah nggak salam buat Kaka ya...:)

Anisa said...

Aswb.wr wb.
Pendekatan yang sangat pas buat anak seusia Kaka.Bisa belajar banyak dari blog ini,semua yang sudah saya baca menarik untuk disimak. Terimakasih untuk pembelajarannya dan juga untuk kunjungannya. Mohon ijin untuk saya link..Makasih dan salam buat keluarga. Wassalam

radioholicz said...

terkadang kita memang emsti siap, dengan pertanyaan dengan pertanyaan yang tidak terduga. jadi pengen juga bertukar pikiran. salam kenal.

Citarayani said...

Hmm….i hate cigarette so much. Cigarette and its smoke always make me hard to breath.

Alhamdulillah di rumah ga ada yang ngerokok ya (bapak saya bilang ngerokok malah bikin dia pusing). Menurut saya, kebiasaan merokok terjadi karena beberapa factor yaitu:
1. Faktor pertemanan atau lingkungan kita (Mungkin factor ini bisa menjadi factor yang paling signifikan mempengaruhi asal muasalnya seseorang mengenal rokok)
2. Faktor kurangnya pendidikan tentang bahaya merokok kepada anak di usia dini (usia dimana seorang sudah mulai bisa memahami sesuatu, dan tentu saja kalau bisa pada saat itu ia memang belum mencoba rokok, atau kalaupun dia mencoba hanya satu kali dan itu pun hanya untuk sebuah “pembelajaran” seperti yang ditawarkan bang napi kepada si kakak eyzel (halah!! Bapeke kok jadi dipanggil bang napi sih???, Tanya kenapa?? )) Jadi maksud saya pendidikan informative yang diberikan oleh orang tua bukanlah pendidikan yang aksi-reaksi (dididik jika sudah ada masalah. Ini mah sulit ya)
3. Faktor tingkat stress yang dimiliki seseorang, dimana rokok katanya bisa mengendurkan urat-urat syarafnya (sebenarnya alas an ini kurang saya sukai ya, kalau stress kan ga harus ngerokok tapi bisa ngerjain hal lain yang lebih positif kali ya seperti OLAH RAGA GITCHU LOH :p )

Nah, menurut saya, dengan mengetahui faktor2 pencetus seorang anak untuk merokok, sudah seyogyanya kita bisa melakukan tindakan pencegahan kepada anak-anak kita untuk tidak merokok lewat pendekatan-pendekatan yang demokrasi dan konstruktif (mungkin salah satu contohnya sudah dilakukan oleh pak hanafi, kalaupun pencegahan tersebut tidak juga berhasil, ya sudah……didoakan saja anaknya supaya bisa sadar suatu saat nanti, karena biar bagaimana pun anak-anak kita bukan lah milik kita kan?? Ga mungkin kita paksa-paksa terus, dan ga mungkin kita kawal selama 24 jam (anak sekarang kan lebih jago “ngerjai” orang tua mereka ya). Pokoknya mah memberikan pemahaman sejak dini kepada anak2 kita adalah hal yang terpenting bagi mereka dan tentu saja ini sudah menjadi kewajiban orang tua, sehingga dengan pemahaman tersebut mereka punya bekal untuk melindungi diri mereka sendiri tanpa harus kehilangan teman :D

Oks deh, maaf jadi berpanjang-panjang nih bang napi hehe :P

Edwards said...

Saya dulu pernah merokok dan beberapa waktu lalu pernah ingin mencoba rokok lagi - waktu itu karena lagi bete. Tapi untungnya keinginan itu bisa ditahan.

Bapak saya nggak pernah melarang saya merokok, toh beliau sendiri juga perokok berat.

Nanggapin buat teman saya si Ismansyah diatas: no mountain too high when there's a will.

Iman Brotoseno said...

waduh saya baca blog ini sambil merokok...!buru buru cari asbak

Budi Aditia said...

Pertanyaannya, siapakah si ibu anak (Kaka) tersebut?

cta said...

wow.. kisah teladan yang baik. saya juga sebagai anak selalu berpikir, kenapa sih saya dilarang-larang, dan akhirnya saya mencoba sendiri. meskipun sampai pada kesimpulan bahwa saya nggak akan ngelanjutin karena nggak suka, tapi kan saya sudah mengkhianati orang tua ya.. hehehe..

anak-anak gitu loh.. makin dilarang makin jadi..

oRiDo said...

kita sebagai orang tua memang harus siap akan pertanyaan2 dari anak kita yang semakin besar, termasuk harus siap menghadapi perubahan2 yang bisa jadi diluar yang kita harapkan.
disinilah diharapkan kita bisa lebih bijak dalam membimbing anak kita itu biar tidak salah dalam melangkah..

memang...
mudah dikatakan, namun sulit dilaksanakan..

sebagai informasi tambahan, silahkan klik links berikut:
http://orido.wordpress.com/2006/06/15/hotd-orang-tua/
http://orido.wordpress.com/2007/02/12/hotd-kasih-sayang-islam/
http://orido.wordpress.com/2006/07/21/hotd-mohon-pada-allah/
http://orido.wordpress.com/2006/06/29/hotd-anak-perempuan/

semoga berguna

wassalam.

arman said...

Nice posting pak..... Man to Man -nya itu loh..... Kedengaran cool bangex. Nyontek Mbak Nila, ini bisa jadi referensi 5 tahun kedepan....Insyaallah. Ta' save ya, ke file pribadi :-)

Liburan ke Munich...Ok banget tuh bang. Palagi di musim panas. Berani terima tantangan ?

simplySITA said...

ada cerita bagus sekali deh..

semoga bisa menginspirasi.. :)

http://indonesia.heartnsouls.com/cerita/k/c1045.shtml

M. Raul Yasin Widjayabrata said...

Gubraks...
Masya Allah bertambah usia, bertambah pengetahuan, dan bertambah pula cobaan...

donniechat said...

Memang gampang2 susah "mengatur" anak anak yang beranjak remaja ya!..

Rokok memang selalu jadi bahan diskusi yang menarik kalo dikaitkan dengan syariah. Teman saya yg atheis pernah bertanya kenapa islam mengharamkan alkohol sementara rokok tidak, padahal rokok lebih merusak dibanding alkohol.

Sy pribadi sekarang mengganggapnya "haram", meski dulu juga sering merokok.

Bakhrian syah said...

Blog-nya bagus Pa... salut... pembelajaran buat kita-kita... sangat down to earth...

Budi Aditia said...

'Teu kenging udud, kitu 'nya... !